Berkunjung Lintas Keyakinan

Kunjungan selanjutnya adalah kunjungan religi di berbagai tempat di kota Semarang. Ada banyak tempat yang bisa dikunjungi jika dilihat dari sisi nilai historisnya ataupun dari sisi keunikan arsitektur bangunannya. Siapkan energi ekstra dan tenteng backpack dengan berbekal minuman yang cukup dan siapkan uang recehan karena jarak antara tempat yang satu dengan yang lainnya agak sedikit berjauhan.


Keunikan budaya Indonesia dari lingkup yang kecil tergambar di kota Semarang di mana terdapat Mesjid untuk Muslim, Gereja untuk Kristiani, Klenteng untuk Budha yang semuanya menjadi Places of Interest di kota ini.

Masjid Kauman dan Masjid Kampung Melayu
Kedua masjid ini sarat akan nilai historis karena sudah berdiri sejak jaman masa penjajahan, untuk sejarah pastinya silahkan buka wikipedia saja. Masjid Kauman terletak dekat dengan pasar johar. Berarsitektur bangunan jawa dan bercat kan warna hijau, mesjid ini memeliki sebuah bedug berukuran raksasa yang terdapat di pelataran depan sedangkan Masjid Kampung Melayu jaraknya agak jauh dari pasar Johar. 

Masjid Kampung Melayu memiliki ukuran yang tidak terlalu besar, buat saya lebih mirip sebuah mushola dibandingkan dengan sebuah masjid. Konon katanya kawasan di sekitar masjid ini adalah tempat bermukimnya para etnis arab, namun saya tidak menemukan satupun. Kawasan ini sepertinya rawan banjir rob karena letaknya bersebelahan dengan sebuah sungai. Cara menuju tempat ini bisa dengan menggunakan bus, trans semarang atau cara tercepat adalah becak.

Gereja Gedangan
Berkunjung ke gereja ini mengingatkan saya akan bangunan berwarna merah Stadhuys nya Melaka di Malaysia, bedanya Gereja Gedangan warna merahnya lebih lembut dengan susuna dinding bata nya yang dibiarkan tanpa diplester atau ditembok sehingga terlihat sangat elegan dan alami. Ada sedikitnya 3-5 bangunan berwarna merah di kawasan komplek Gereja Gedangan ini di mana salah satunya yang terletak persis bersebrangan adalah gereja dan rumah tinggal para biarawati. cara menuju kesini paling mudah adalah dengan menggunakan becak.

Klenteng Agung Sam Poo Kong
Terletak jauh dipinggiran kota Semarang yakni di bilangan Simogan, Klenteng ini berada di tempat yang lumayan sejuk untuk wilayah Semarang yang panas. Ada banyak nama alias dari klenteng ini di antaranya Klenteng Gedung Bata, Klenteng Cheng Ho dan Klenteng Simogan. Membingungnkan memang, tapi sepertinya masyarakat di sana lebih familiar dengan nama Klenteng Gedung Bata karena dari sekian banyak orang yang saya tanya mengenai cara menuju kesana, semuanya baru menyadari bahwa tempat yang saya maksud adalah Klenteng Gedung Bata.

Berarsitektur khas chinese dengan warna merahnya yang mencolok, klenteng ini memang diperuntukkan untuk Laksamana Cheng Ho yang konon katanya datang langsung dari Cina untuk berdagang dan menyebarkan ajarannya di Semarang (sejarah lengkapnya bisa googling sendiri atau minta bantuan Wikipedia saja, agar informasinya lebih akurat). Patung sang Laksamana sendiri berdiri kokoh persis di depan salah bangunan di komplek klenteng ini. 

Untuk memasuki areal ini pengunjung dikenakan biaya masuk jika tidak salah ingat sebesar IDR 5.000 (domestic) dan IDR 10.000 (asing). Hampir tidak ada yang bisa dikerjakan didalam areal ini karena untuk bisa melihat-lihat lagi kedalam bangunan klenteng dikenakan biaya masuk lagi sebesar IDR 25.000. Untuk yang berminat dengan pernak pernih Cina, di sini tersedia juga photo kostum seharga IDR 75.000 lengkap dengan senjata dan hiasan kepala layaknya di film-film klasik dari China (bayangkan saja serial Yoko 'The Return of Condor Heroes'). 

Untuk menuju kesini harus 2 kali naik angkutan umum di mana yang pertama adalah menuju sebuah pasar yang mana saya lupa namanya pasar apa dan yang kedua adalah dengan angkutan berwarna kuning yang langsung melewati klenteng ini, saya kurang tau apakah tempat ini bisa di jangkau dengan Trans Semarang.

Klenteng Tay Kek Sie (Pecinan)
Klenteng ini menurut cerita yang pernah saya baca adalah cikal bakal dari Klenteng Gedung Bata di Simogan. Karena disinilah Laksamana Cheng Ho pertama kali mendarat dengan kapalnya, replika kapal tersebut terdapat persis di depan klenteng ini. Bedanya dengan Klenteng Gedung Bata adalah klenteng ini tidak dikenakan biaya masuk alias gratis untuk berkunjung melihat-lihat kedalam bangunan klenteng sampai menuju mimbar tempat para umat budha sembahnyang meminta kepada para dewa. Cara paling mudah menuju tempat ini adalah dengan becak



Hal Penting
- Orang Semarang kurang familiar dengan nama tempat, jadi lengkapi informasi tempat yang akan dikunjungi dengan nama daerahnya
- Untuk menuju beberapa tempat ada yang tidak dilalui oleh angkutan umum, jadi gunakan ilmu tawar menawar Anda untuk negosiasi dengan tukang becak, tapi mesti ingat harus ada sisi kemanusiaan karena rata-rata tukang becak di sana sudah berumur
- Aturlah itinerary dengan seksama untuk menghemat biaya karena jarak antara tempat-tempat tersebut berbeda arah

2 comments:

aku pingin juga sesekali kesana, padahal dekat, cuma numpang lewat doang :(

October 23, 2010 at 2:48 PM comment-delete

mampir lah sesekali, tapi ya emang sepi2 aja kecuali klenteng Sam Poo Kong

October 27, 2010 at 3:33 PM comment-delete

Post a Comment