Transportasi di Jepang

Jepang memiliki moda transportasi yang modern dan terintegrasi antar kota di seluruh negeri dan hampir seluruh transportasi nya berada di bawah tanah alias subway. Modern nya moda transportasi ini berbanding lurus dengan ongkos yang harus di bayar oleh pengguna jasa transportasi, mahal ya? Uhmm…lumayan menguras kantong juga.

Subway dan kereta memang menjadi transportasi utama bagi penduduk kota-kota di Jepang, memang terdapat juga bus-bus namun kalah populer dengan subway. Dari ketiga kota yang akan saya kunjungi, hanya Kyoto lah yang menggunakan bus sebagai moda transportasi utama kota.

Untuk transportasi antar kota nya, terdapat bus, kereta dan shinkansen. Shinkansen menjadi pilihan utama bahkan dibandingkan dengan pesawat meskipun harga tidak terpaut jauh dengan tiket pesawat. Warga Jepang ini terkadang selalu terburu-buru, berjalan cepat dan tidak banyak berbicara, nah dengan kebiasaan terburu-buru nya ini tidak salah lah jika kebanyakan dari mereka memilih shinkansen dibandingkan pesawat. Alokasi waktu untuk pesawat bisa memakan waktu sekitar 4 jam baik untuk transportasi menuju airport maupun proses boarding karena biasanya letak airport jauh dari pusat kota, sedangkan untuk shinkansen, selain letaknya di pusat kota, urusan boarding dan lain-lainnya jauh lebih cepat.

SUBWAY DAN KERETA UNTUK DI DALAM KOTA

Pertama kali saya melihat peta transportasi di Jepang, terutama Tokyo, saya cuma bisa bengong lama dan lama kelamaan mata saya tak bertahan lama, tumbang pening melihat betapa banyak garis malang melintang berbeda warna kesana kemari membentuk sebuah bentuk. Garis warna A melintang berkelok dan menukik disalah satu sudut kemudian naik ke atas berbelok lagi di iris oleh garis warna B yang melintas tanpa permisi berbelok dan menukik sama kesana kemari, kemudian di hadang garis warna C yang tak kalah gesit berkelok-kelok dan tak diizinkan di potong lagi oleh garis warna D yang tak ketinggalan beraksi megal megol kiri kanan.

Garis-garis itu saling mengiris dan berhimpitan di salah satu tempat kemudian melanjutkan perjalanannya sendiri kearah tertentu dan berhimpitan lagi dan tanpa menyerah kembali melanjutkan perjalanannya sendiri sebelum kemudian kembali bertabrakan dengan garis lainnya. Untuk menuju satu tempat saja, saya bagai mengurai benang kusut menyusuri salah satu garis kemudian berhenti di satu titik untuk kemudian menarik kembali satu garis dan mata saya kusut otak saya pun ikut kisut.

Belum selesai mempelajari jalur subway Tokyo, alih-alih melakukan penyegaran saya membuka map subway Osaka. Osaka tidak serumit Tokyo, saya dengan mudah menemukan titik-titik di mana tempat yang harus saya tuju dan harus kemana melangkah karena tempat saya tuju kebanyakan berada di JR Osaka Loop dan JR ini mudah sekali ditemukan, layangkan saja mata ke garis-garis rel kereta yang berbentuk oval.

Selesai mempelajari jalur subway dan kereta Osaka, saya membuka jalur bus di Kyoto. Tak kalah saing dengan Tokyo, Kyoto memiliki jalur bus yang lumayan rumit, memang garis-garis nya lebih rapid an hanya membentuk sebuah kotak persegi, namun banyak nya no bus yang bertautan di salah satu terminal, membuat saya tak kalah senewen dibuatnya. Bagaimana saya bisa membuat itinerary dengan seksama jika jalur transportasi nya sedemikian rupa!

Berhari-hari saya dengan tabah dan tawakkal mempelajari jalur-jalur transportasi ini, mencoba menyambungkannya dengan hostel di mana saya tinggal menarik satu garis menuju tempat yang akan saya kunjungi dan berakhir dengan kebingungan sendiri. RUMIT amat ini peta ya!

Coba perhatikan ketiga peta jalur transportasi masing-masing untuk Tokyo, Osaka dan Osaka di bawah ini, dan ungkapkan sendiri bagaimana pendapat Anda.
 
Tokyo Subway MAP
Osaka Subway MAP
Kyoto Bus MAP
Berjibaku dengan ketiga map di atas memberikan seni tersendiri, seni membuat kerumitan otak sebetulnya namun inilah fase terindah seorang traveler. Duduk berlama-lama di depan laptop mengumpulkan informasi, membuka situs A, B dan C, serta membaca tulisan blog D, E dan F adalah salah satu riset yang sangat penting dalam menyusun sebuah rencana perjalanan. Semakin banyak riset yang dilakukan maka akan semakin banyak informasi yang di dapat, di ketahui dan di pelajari dan di kumpulkan menjadi sebuah rencana dan otomatis akan memberikan sebuah perkenalan permulaan akan sebuah tempat yang akan di datangi kemudian, how to get there and what should be ride, SUPER!

Traveler tidak menggunakan mulutnya namun menggunakan peta dan mata untuk mencapai suatu tempat, meski terkadang tersesat tapi itu adalah sebuah seni pencapaian dari sebuah usaha.  

Meski rumit dan membuat tumit berjinjit ingin beranjak dari rasa yang menghimpit, saya tetap mengurai satu persatu jalur-jalur subway dengan sesekali mata berurai akibat terlalu lama memandangi layar monitor yang tak jua lunglai. Entah berapa lama menit saya lahap hingga akhirnya sebuah itinerary perjalanan lengkap dengan budget nya selesai saya buat dan terpampanglah angka IDR 3jt an lebih secara keseluruhan tidak termasuk biaya makan.

Saya memang tidak terbiasa memasukkan budget makan dalam setiap kali menyusun sebuah itinerary, karena budget makan biasa nya saya kalkulasikan tersendiri secara terpisah. Alasannya karena makan buat saya nilainya tidak mutlak, kapan dan dimanapun saya lapar, saya akan makan, melihat kudapan pinggir jalan, why not! Saya hanya bisa memakan roti untuk makan siang atau saya makan besar di kala sore dan kembali makan di malam hari, yang jelas jam makan buat saya flexible tidak harus pada jam-jam tertentu.

Tentu saja ritme makan setiap orang berbeda-beda sesuai dengan kebiasaan masing-masing, namun untuk mengkalkulasikan biaya makan kedalam sebuah budget plan, saya biasanya memukul rata budget per sekali makan dengan nilai tengah antara harga makanan termurah dan termahal. Budget makan selama di Japan akan saya rinci tersendiri.

Kunci untuk memahami sistem transportasi di Japan adalah jangan hiraukan garis-garis kecil yang serta merta ikut nimbrung dalam sebuah peta subway, itu adalah jalur kereta lokal hampir bisa dikatakan untuk turis tidak pernah digunakan, konsentrasikan saja pada garis-garis yang berwarna besar dan tandai tempat yang akan dikunjungi dan apa nama station nya. Ikuti garis subway di mulai dari di mana kita tinggal atau berada dan jika garis tersebut bersinggungan dengan garis lainnya sebelum mencapai station yang kita tuju, berhenti dahulu untuk melihat kemungkinan apakah terdapat sebuah kesempatan untuk memutarkan arah atau jalan pintas menuju tempat yang kita tuju, jika tidak, lanjutkan mengurai garis tersebut hingga mencapai titik akhir. Mudah kan?

Sekarang mari kita simulasikan salah satu tempat di Tokyo, misalkan HACHIKO. Terlebih dahulu kita harus mengetahui di mana si patung anjing terkenal Hachiko tersebut berada, misalkan sudah tahu ada di Shibuya dan kita berada di Asakusa.

Perhatikan pada peta subway Tokyo di atas :

§  Langkah 1 : Identifikasi line subway di mana kita berada dan dalam hal ini karena kita berada di Asakusa, masa subway nya adalah line Asakusa (kode A18 warna orange agak kusam)
§  Langkah 2 : Identifikasi stasiun Shibuya berada di mana, lihat kembali ke peta dan Shibuya dapat di lalui oleh 3 line subway yaitu Ginza Line (Kode G warna kuning tua), Hanzomon Line (Kode Z warna ungu) dan Fukutoshin Line (Kode F warna coklat). Selain dilalui oleh subway line, Shibuya juga di lalui oleh JR Yamanote Line (garis-garis rel kereta api), jadi dalam hal ini untuk mencapai Shibuya terdapat 4 alternatif namun harus diperhatikan jika mengambil alternatif dengan memakai JR Yamanote Line, karena semua pass harian tidak bisa di pakai di line ini kecuali JR Pass dan Suica Card.
§  Langkah ke 3 : Tariklah atau susuri line subway Asakusa menuju Shibuya, dan karena keduanya berada di line yang berbeda, otomatis tidak akan bisa langsung menuju Shibuya namun harus mencari titik temu/irisan yang mempertemukan beberapa stasiun (interchange station) dan dalam hal ini Asakusa Line langsung beririsan dan bertemu dengan salah satu dari 3 stasiun menuju Shibuya yaitu Ginza Line di stasiun Shimbashi (A10 dan G08)

Sekarang sudah terbayang kan bagaimana cara termudah menuju ke tempat yang di tuju?

Yuk simulasi lagi agar tambah mudah menemukan sebuah tempat. Misalkan dari Shibuya kita akan ke Disney Resort dan pura-pura nya kita sudah tahu di stasiun mana kita harus berhenti untuk menuju Disney Resort. Okay, Disney Resort bisa di capai dari Shin-Kiba Station (Kode Y24 warna kuning kusam) ke Maihama di JR Keiyo Line (warna abu-abu garis kecil)

Perhatikan lagi pada peta subway Tokyo di atas :

Asumsi menggunakan pass harian :

§  Langkah 1 : Identifikasi line subway Shin-Kiba dan setelah di lihat ternyata Shin-Kiba ada di Yurakucho Line (Kode Y warna kuning kusam)
§  Langkah 2 : Setelah line teridentifikasi, maka susurilah atau tariklah satu-persatu dari 3 line subway yang berada di Shibuya dan temukan irisan/persinggungan (interchange station) dengan Yurakucho Line dan dalam hal ini ke tiga line subway dari Shibuya semuanya bersinggungan dengan Yurakucho Line. Fukutoshin Line bersinggungan di Ikebukuro, Hanzomon  Line bersinggungan di Nagatacho dan Ginza Line di Akasaka-Mitsuke namun harus berjalan kaki menuju Nagatacho.
§  Langkah 3 : Dari ke tiga alternatif tersebut, yang paling praktis dan ekonomis adalah mengambil Hanzomon Line menuju Nagatacho dan berganti subway menuju Shin-Kiba
§  Dari Shin-Kiba berganti kereta JR Line menuju Maihama (beli tiket one way) kemudian dari Maihama langsung menuju Disney Land Resort dengan kereta khusus Disney Resort (beli tiket tersendiri)

Practice makes perfect, begitulah cara saya memahami jalur transportasi dalam kota di Tokyo, Kyoto dan Osaka dan bagi saya tidaklah terlalu sulit, tinggal ada kemauan dan usaha.

BUS DAN SHINKANSEN UNTUK ANTAR KOTA

Saya akan menggunakan bus antar kota dari Tokyo ke Kawaguchiko (Fuji-San) dan dari Tokyo ke Kyoto. Terminal-terminal bus di Tokyo tidaklah semegah stasiun-stasiun subway, terminal bus itu hanyalah seperti terminal  bayangan dan terkadang hanya merupakan seruas parkiran di depan sebuah gedung.

Bus yang akan saya gunakan keduanya terletak di daerah Shinjuku namun berbeda operator, bus Willer Express untuk tujuan Tokyo ke Kyoto dan KEIO bus untuk Tokyo-Kawaguchiko. Tiket bus untuk tujuan Shinjuku-Kawaguchiko, tiket dapat di beli secara langsung di sebuah counter tiket di depan terminal bus atau atau melakukan pemesanan Odakyu Sighseeing Center di Odakyu Mal untuk keberangkatan selain hari itu juga, sedangkan untuk tiket bus Willer Express dari Tokyo (West Shinjuku) menuju Kyoto hanya bisa dilakukan secara online di situs resmi Willer Express.

Sedangkan untuk Shinkansen, tiket dapat di beli di mesin-mesin pembelian tiket otomatis di setiap stasiun subway atau jika ragu dan takut berbuat kesalahan, bisa di pesan di counter penjualan tiket shinkansen di stasiun-stasiun besar. 

FYI : Di postingan selanjutnya saya akan coba bahas tentang Pass yang bisa digunakan di Jepang untuk menghindari membengkaknya biaya transportasi 

HAPPY TRAVELING 

Hal Penting :
 - Untuk yang bingung membaca peta subway cara menuju ke suatu tempat, dapat menggunakan bantuan Hyperdia.com
- Interchange antar station subway berbeda line terkadang berjauhan satu sama lain dan mengharuskan kita keluar keluar station baru kemudian masuk lagi ke station lainnya, contohnya 
Station Kuramae
- Pelajari peta ini dan kalkulasikan biaya transportasi ini, karena bisa digunakan sebagai patokan untuk memutuskan apakah akan membeli JR Pass, Daily Pass atau Suica Card

2 comments:

Anonymous said... Reply To This Comment

Hi there..

Nice recap and info that u shared!

Err anyway, read that u r planning for India trip. I will be in India this coming Oct. when is ur plan anyway? Am looking for a travel partner for my quick 5-6 days escape to North. If possible la... | nr_fiza at yahoo dot com |

turiscantik.com said... Reply To This Comment

keren banget sangat memperhatikan semua hal detail, nice post ;)

Post a Comment

Flickr Digg Yahoo! Technorati MySpace Delicious RSS