Jelajah Wat di Bangkok (5)


Sejumlah wat-wat di Bangkok hampir seluruhnya dijelajahi, namun masih ada beberapa yang masih harus dikunjungi dan kali ini jaraknya sangat walkable dari area Khao San Road tempat saya menginap. Tinggal berjalan kearah Monument Democracy, maka sudah berada di kawasan wat yang akan di kunjungi.

Wat Racthanadharam

Wat ini terletak persis di pinggir jalan tak jauh dari Democracy Monument yang merupakan sebuah kompleks wat yang terdiri dari ruangan peribadatan dan rumah-rumah tinggal para biksu atau monk, sama seperti wat-wat lainnya di Bangkok.

Tidak hanya bangunan nya yang serupa baik warna dan arsitekturnya, wat ini juga seperti wat-wat lainnya yang lagi-lagi berwarna keemasan dan meruncing di ujung-ujung atapnya.

Di bagian sudut wat ini terdapat patung King Rama yang terbuat dari semen dan saya tidak tau raja yang ke berapa. Selain wat ini, di belakang kompleks ini masih terdapat setidaknya dua buah wat lagi diantaranya Loha Prasat yang unik dan wat apalagi saya lupa namanya.

Loha Prasat


Bangunan ini terletak di belakang Wat Ratchanadharam, tidak seperti wat-wat yang lainnya yang penuh ornamen dan hiasan-hiasan serta lengkungan-lengkungan berwarna keemasan, Loha Prasat ini berbeda dengan yang lainnya.


Mempunyai gunungan-gunungan atap yang berwarna hitam membuat Loha Prasat ini lain daripada yang lain karena kontras sekali dengan bangunan-bangunan disekelilingnya.

Sekilas tampak aneh atau juga mungkin unik karena bangunan ini layaknya bangunan biasa namun dipaksakan dihiasi sesuatu di atasnya. Tidak dapat melakukan apapun di sini selain cuma melihat-lihat karena setiap ruangan di sini dipagari.

Golden Mount dan Wat Saket
Jangan membayangkan bahwa ini adalah daerah di pegunungan tinggi yang berhawa sejuk layaknya daerah pegunungan karena pada kenyataannya tempat ini hanyalah sebuah gundukan tanah tinggi yang di atasnya terdapat sebuah kuil budha berwarna keemasan khas Thailand yang meruncing ke atas.


Di sekitar tempat ini lah saya takjub dengan sungai-sungai di Thailand yang meskipun aernya hitam pekat layaknya sungai-sungai di Jakarta, namun angkutan umum perahu bergerak bebas di sini.


Saya tak dapat membayangkan jika harus menaiki perahu tersebut dengan cipratan-cipratakn airnya karena di samping perahu nya hanya dibatasi selembar plastik biru semacam yang biasa digunakan para pedagang kaki lima.

Untuk memasuki Golden Mount, pengunjung harus menaiki beberapa buah anak tangga yang melingkar menuju puncak. Tidak usah kuatir, karena tangga ini sangat landai dan di kanan kirinya sengaja ditumbuhi pepohonan dan terdengar suara-suara biksu yang sedang beribadah di balik speaker yang di pasang di beberapa tempat menambah kesyahduan tempat ini.

Namun jangan sampai salah menaiki tangganya, karena terdapat 2 buah tangga untuk menaiki puncak ini, satu berwarna putih (masuk/naik) dan satu lagi berwarna merah (keluar/turun). Di bagian tertentu tangga ini terdapat lonceng-lonceng yang biasanya akan dibunyikan oleh para biksu/monk yang berjejer.



Di dalam ruangan yang cukup sempit di atas tempat ini terdapat patung budha yang di setiap sudutnya terdapat warga lokal yang sedang memberikan persembahan dan berdoa. Jangan lewatkan untuk naik ke bagian puncak bangunan ini di mana cedi keemasan berada. Sepertinya ada ritual yang mengharuskan mengelilingi cedi ini karena saya melihat ada beberapa orang warga lokal berkali-kali berputar berkeliling sambil sesekali berhenti memasangkan kedua tangannya di dada layaknya tengah berdoa.

Dari atas puncak Golden Mount, pengunjung akan dihadiahi pemandangan kota Bangkok dari atas, bahkan Grand Palace, Wat Pho dan Wat Arun pun terlihat jelas dari sini.

Bersebelahan dengan Golden Mount terdapat Wat Saket yang sepertinya dari sanalah para biksu yang sedang berdoa yang tadi terdengar di speaker saat menaiki tangga. Jalanan di depan Wat Saket ini sangat asri dan rapi sekali.


Hal Penting
- Jangan lupa melepaskan alas kaki saat menaiki puncak menuju cedi keemasan di Golden Mount

- Jika ingin berderma dan Anda bukan muslim, sisihkan beberapa baht untuk bersedekah

- Perhatikan warna anak tangga yang Anda naiki, jika Anda menapaki warna merah sewaktu menuju puncak, itu artinya Anda salah jalan karena itu adalah sebenarnya adalah tangga untuk turun, saya baru tersadar ketika turun dan berada di bawah ternyata di bagian depan terdapat pintu gerbang dan saya menapaki tangga warna putih.

0 comments:

Post a Comment