Lengang, Dollar dan Gorengan Serangga - [Phnom Penh]

Saat memasuki Phnom Penh, saya gembira setengah mati saat melihat aksara yang bisa saya baca dan otak saya memahami bacaan tersebut. Ya saya mengerti bahasa itu, bahasa melayu yang terpampang di depan kedubes Malaysia yang baru saja dilewati bus yang saya tumpangi. 

Mendapati salah satu identitas yang ada dalam diri kita di negara lain memang menjadi siraman rohani tersendiri. Laksana mendapat energy baru dan merasa dekat dengan asal muasal, saya hanya memandangi buku kecil berwarna hijau berlambang garuda dalam genggaman tangan dan hmmm..saya seorang Indonesia. 

Bus tiba-tiba berhenti dan satu kesalahan besar telah saya perbuat. Saya bertanya pada kondektur di mana letak guesthouse yang saya booking dan lebih celakanya, si kondektur perempuan itu tidak tahu di mana guesthouse yang saya tuju.  Alhasil bookingan guesthouse saya berpindah tangan ke para sopir tuk-tuk yang bak haus dollar berkerumun di pintu bus sambil menarik-narik saya dan menyebutkan bilangan angka dollar se enak udel di tempel di jidat!.  

Ccilaka, bisa jadi bulan-bulanan nih!
- Give it back my paper, give it back to me! nada mulai meninggi
Dan tukang tuk-tuk masih saja menawarkan dollar yang gak masuk akal, 4 dollar, 4 dollar, 4 dollar
- Hey..hey, wait-wait!, saya merasa seperti se ekor sapi dicocok hidung ditarik oleh tukang tuk-tuk
- Well. Okay then.  dont worry, I'll with you but only if 1 dollar for two of us, if not, just give it back my paper!!, understand?? Saya kesal ditarik-tarik dari tadi.
- Okay sir, okay. Si supir tuk-tuk main ambil backpack saya.
- Hey..hey..hey..hold on!, saya makin meninggi. 1 dollar for two of us, no extra!! deal?
- Okay sir!..
(hati-hati dalam tawar menawar tuk-tuk di Kamboja, jangan asal naik, pastikan harga dulu di awal dengan betul jika tidak mau terlibat perang mulut kemudian). 

Setelah mandi dan beres-beres, saya mulai berkeliling kota Phnom Penh. Sore itu, kesan kedua tentang kota ini, tetap sepi dan lengang (kesan pertama, saat bus memasuki Phnom Penh). Saya dengan sangat bebas melenggang di jalanan, gak ada mobil juga yang lewat, paling banter tuk-tuk yang membunyikan klakson menawarkan jasa tumpangan dengan imbalan dollar. 

Di Kamboja ini memang selain uang negaranya sendiri (Real), uang dollar (USD) bebas digunakan bertransaksi apapun. Saya bahkan se enaknya saja jika sedang menawar, 1 dollar....1 dollar...1 dollar...palingan pedagangnya HAH??? no can sir, no can!!. Saya sebetulnya kagak niat beli, nawarpun cuma iseng-iseng doang, abis itu jurus andalan, ngeloyor dan no thanks. Diomel-omelin? asikin ajah, kagak ngerti bahasanya juga kan!

Makan malam di jalanan Mekong Riverside (baca Amigos=Agak Minggir Got Sedikit) saya tetap membayar 1 dollar untuk semangkok makanan sejenis soto betawi plus bonus diajarin bahasa Khmer sama yang jualnya. Namun saya lupa semua cuma tersisa satu kata O-kon = terima kasih (gak tau cara nulisnya yang benar gimana). 

Sambil berjalan pulang menuju guesthouse, saya mengamati keadaan sekitar, lumayan ramai karena area riverside ini merupakan area touristic jadi banyak terdapat cafe dan restoran. 

Tanpa disengaja di salah satu sudut jalan, terdapat jajanan aneka macam serangga goreng yang menggugah selera untuk mencoba. Kebetulan ada 2 orang bule suami istri dari Eropa yang juga sedang kuliner serangga. Mereka sedang mencari balut, tahu balut kan? konon katanya khas dari negara Philippines.  Balut adalah telor bebek yang janinnya sudah jadi, kemudian direbus dan di santap bersama garam. Yummyy, sayang tidak ada!.

Saya menjatuhkan pilihan kepada belalang dan laba-laba goreng. Sempat ditawarin sama 2 suami istri itu makan kodok, tapi maaf, kalau tidak salah itu haram! jadi saya tidak mau mencoba tawaran gratis mereka. btw, laba-laba itu haram tidak? maaf saya khilaf waktu itu!, jadi boleh lah di makan.

Sedang asyik-asyik nya melahap laba-laba dan bercanda dengan ibu-ibu penjualnya, 3 orang turis Germany mendekat dan bergabung.  Mereka memilih-milih serangga yang akan dimakan, saat saya tawarin laba-laba yang sedang berusaha saya habiskan, salah seorang di antaranya meminta kaki serangga dan membujuk teman wanitanya untuk mencoba. 

i even hate to see them alive!! teriak si cewek
Namun setelah dibujuk bujuk, akhirnya sepucuk kaki serangga dimakannya, sambil dengan mimik muka jijik..rrrggghhhh

Racun semua!. Ibu-ibu penjualnya tersenyum girang. Kami beranjak pergi dan si 3 Germany itu pun ikutan pergi. Wah, gak jadi beli ya mereka, saya pasti di kutuk sama penjualnya. Kabooorrrr!

HAPPY TRAVELING
Hal Penting
- Jika memungkinkan tukarkan uang dollar ke Real Cambodia, karena nilai 1 dollar itu merupakan harga paling murah padahal harga dalam real jika dikonversikan kurang dari 1 dollar
- Tak bosan-bosan, hati-hati dalam tawar menawar tuk-tuk
- Phnom Penh meskipun ibukota negara, namun tidak seramai dan semodern layaknya sebuah ibukota, maklum negara ini baru saja terbebas dari rezim penguasa yang dholim, jadi hati-hati jika ingin keluyuran malam hari
- Harus mencoba kuliner serangga di Kamboja, jenisnya jauh lebih banyak di bandingkan di Bangkok. Ada kodok, ular, ulat, kecoa, kalajengking, laba-laba dan entah jenis binatang apalagi. harganya bervariasi antara 1-2 dollar

4 comments:

Seru banget yaa, apalagi kalo traveling ke Thailand emang gak akan seru kalo engga nyicipin kuliner ekstrimnya yg seabreg.. nice info gan

January 5, 2016 at 11:41 AM comment-delete

itulah seru nya backpackingan

January 11, 2016 at 12:27 PM comment-delete

huaaaah asik tau kuliner serangga ini. Menyehatkan pula

April 14, 2016 at 6:06 PM comment-delete

Mereka bilangnya mengandung bnyak protein

April 16, 2016 at 12:58 PM comment-delete

Post a Comment