Magnet Al Haram - [Umroh Bersama Arminareka Perdana]

Konon katanya jika pernah menginjak tanah suci dan melihat Kabah, pasti ingin kembali lagi ke sana. Mitos ini banyak diyakini orang  tapi bagi saya, uhmm entah lah, once is enough before death.

Siang itu, beberapa jam setelah mendarat di King Abdul Aziz, Jeddah dan beristirahat di hotel, saya ber ihram dan menaiki bus untuk mengambil miqat dari Jeddah ke Zuhfah sebelum memasuki kota Haram Makkah Al Mukaramah.

Miqat adalah tempat atau titik di luar kawasan tanah haram di mana para jamaah baik itu yang akan melaksanakan ibadah haji maupun umrah harus berniat dan melakukan shalat sunnah ihram.

Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaik Kala Syarikala Kalabbaik, Innal Hamda, Wannikmata, Laka Wal Mulk, Laa Syarika Laaakk. Pak ustad pembimbing mulai menuntun kami untuk bertalbiyah, namun kemudian saking jauhnya jarak Jeddah-Zuhfah-Makkah, beberapa jamaah termasuk saya banyak yang tertidur sambil ber talbiyah masing-masing.

Menjelang magrib, bus mulai memasuki kota Makkah. Ustad pembimbing sudah mulai berkoar-koar menjelaskan ini itu pada setiap tempat yang dilalui hingga akhirnya tampak lah  dari kejauhan sebuah gedung dengan jam besar di atasnya. Itulah Zam-Zam Tower yang terkenal dan kebetulan hotel kami terdapat di salah satu tower itu, Pullman Hotel.

Saya yang sejak bertalbiyah tadi sudah terharu hanya mampu berucap, Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan mu. (setelah memakai kain ihram, tidak tahu kenapa perasaan saya campur aduk antara haru, penasaran, bahagia, sedih dan haru lagi)

Zam Zam Tower
Tak sabar rasanya ingin segera melihat ka'bah yang sudah bertahun-tahun saya bayangkan, namun pihak travel menjadwalkan bahwa umrah akan dilaksanakan setelah isya, karena jamaah diminta beristirahat dan santap malam.

Saya yang terbiasa langsung minggat dan gak betah berlama-lama terdiam setiap datang kesuatu tempat ini memang belum bisa menghilangkan kebiasaan itu. 'Saya ingin segera melihat Ka'bah, saya ingin ke Alharam sekarang juga, Magrib ke Isya di sini kan lama, duh!.

Saya hanya bisa terduduk memandangi kain ihram yang membungkus tubuh telanjang tanpa busana satupun ini.  Ingin rasanya saya ngeloyor sendiri, tapi saya gak tahu darimana harus memulai untuk ber umrah. Uhmmm, akhirnya saya pasrah masuk kamar dan selonjoran mengepulkan asap rokok.

Saat yang dinanti itu pun tiba, saya terpaku melihat sebentuk bangunan hitam yang ada di kejauhan. Labbaik Allahumma Labbaik, Saya tak mampu berkata-kata memandangi ka'bah. Beberapa rombongan jamaah dari negara lain yang datang bersamaan dengan rombongan saya, tak sanggup membendung butiran air mata, tersedu, terisak sambil berdoa sebelum mendekati Ka'bah. Saya pun terbawa suasana haru, menitikkan air mata, Ya Allah Ya Rabbi. Hanya itu yang dapat saya ucapkan.

Saya berjalan terseok-seok mengikuti pak ustad dengan kain ihram yang kebesaran bergerak mendekati sudut ka'bah. Kami semua bergerak ke arah sudut di mana di mulainya tujuh putaran thawaf, Hajar Aswad dan lampu hijau di seberangnya. (ribet bangat!! PS : Jangan memakai kain ihram yang terlalu panjang dan besar terutama untuk bawahan, karena cara melipatnya ada aturannya sendiri, tidak boleh dikuntel-kuntel seperti memakai kain saat sholat)

Umrah pertama selesai hampir pukul 2 dini hari, rata-rata memang untuk ritual umroh dari mulai thawaf sampai dengan tahalul memakan waktu hampir 2 jam. Saya pamit dengan pak ustad untuk melanjutkan thawaf sunnah meski sudah menjelang dini hari. Hmm...rugi dan sia-sia rasanya jika tak berlama-lama bercengkrama, memandang, menyentuh, mengelilingi serta bersujud memanjatkan beberapa permohonan yang saya sendiri sampai bingung harus meminta apalagi.

Selama di Makkah, hari-hari kebanyakan saya habiskan di dalam Masjidil Haram atau orang sana bilang nya Al Haram. Tiap ada kesempatan luang, saya eksplore ke beberapa bagian masjid dan berakhir dengan kekederan alias tersesat. Disorientasi arah saya tak hilang juga ternyata meski di Al Haram. Hajar Aswad berhasil saya cium, hijr ismail saya sambangi berkali-kali, rukun yamani saya jarah, multajam dan maqom ibrahim saya jabanin. Entah kenapa, saya betah berlama-lama berada di kabah, bahkan saya hampir ketinggalan rombongan untuk city tour karena saya terlalu lama bercengkrama dengan kabah.

Dalam kesunyian pagi, kala itu saya ikut terhanyut bersama beberapa orang bersandar pada dinding kabah di bawah pancuran emas hijr ismail. Saya berdoa, meminta semua nya. Diulang dan diminta lagi dan dalam keheningan, saya termenung meratapi diri betapa saya banyak berdosa dan di sinilah seharusnya saya meminta ampunan Nya. Tak terasa ujung pelupuk mata mulai basah dan butiran-butiran hangat itu pun mulai jatuh. Yups, saya menangis tersedu-sedu tak tertahankan.

Setiap selesai thawaf sunnah, selalu saya sempatkan ke hijr ismail untuk sholat sunnah. Namun tidak lah mudah untuk bisa masuk ke hijr ismail. Harus berdesak-desakkan berebutan, pun sholat di dalamnya harus rela di langkahi, di seruduk bahkan terkadang terinjak saat sedang sujud.

Ruang kosong selebaran jengkalan tangan pun sungguh menggoda untuk diperebutkan. Selain hijr ismail, yang menjadi primadona adalah hajar aswad. Si batu hitam yang terletak di salah satu sudut ka'bah yang menjadi titik permulaan untuk melakukan thawaf itu selalu dijubeli orang, saya sempat terlempar saat mencoba mendekat untuk menciumnya. Luar biasa!

Al Haram memang luar biasa, bagaikan pusat medan magnet yang mampu menarik siapapun dari berbagai kutubnya. Saya tak kuasa menahan tarikan itu, setiap saat saya selalu ingin berada di dalam Al Haram dan berlama-lama memandangi Kabah.

Bentuknya tidak lah berornamen unik, megah apalagi berarsitektur rumit laksana sebuah bangunan-bangunan di Eropa. Namun kesederhanannya itu begitu agung dan mampu menghipnotis orang bahkan menangis tersedu-sedu saat pertama kali melihat nya. Ciptaan manusia sedemikian indah pun terkadang too easy to be forgotten, but Ka'bah...i dont think so!.

Setiap kali saya melihat rekaman atau bahkan streaming dari Al Haram, saya selalu takjub, tak bosan-bosan memandanginya dan selalu ingin berada di sana, lagi dan lagi. Subhanallah

Sudut Al Haram Menara Pintu 1
Thawaf Wada atau thawaf perpisahan menjadi langkah terberat saya kala itu. Thawaf ini diharuskan untuk jamaah yang tinggal di luar Mekkah dan jika tidak dilakukan, harus membayar denda. Thawaf perpisahan menandakan kita berpamitan pada Baitullah dan setelah selesai thawaf, kita tidak boleh lagi berada di lingkungan Ka'bah.

Air mata bercucuran mengiringi langkah-langkah terakhir thawaf, entah kenapa saya begitu emosional kala itu. Rasanya tumpah semua perasaan dan tak ingin meninggalkan

Selesai berkemas, bus yang akan membawa rombongan menuju Madinah mulai bergerak meninggalkan parkiran hotel. Saya menahan gejolak perasaan haru melihat Al Haram, semakin menjauh dan hanya minaret-minaretnya yang kemudian nampak dari kejauhan.

Saya ingin meloncat keluar saat saya melihat di balik jendela bus orang-orang berjalan menuju Al Haram dengan kain ihram nya . Could somebody please stop this car, take me back to Al Haram!!!! i dont wanna go.  Namun, Al Haram semakin menjauh, saya hanya memegangi jendela kaca melambaikan tangan. Ya Allah...kapan saya bisa kembali mengunjungi rumah Mu.

Al Haram tak lagi berada di balik jendela, ia sudah berada jauh di belakang bus yang terus bergerak meninggalkan tanah haram. Saya akan kembali! saya akan kembali lagi untuk ber umrah dan ber haji, batin saya dalam hati. Insha Allah. Ternyata slogan saya sangat salah! "once is not enough for Al Haram". Barrakallah.

WASSALAM
Mekah Al Mukarramah, 20 Juni 2013

0 comments:

Post a Comment