Sejarah Kelam Killing Field dan Penjara Toul Sleng, Phnom Penh

Siapa lah orang Asia atau bahkan warga dunia yang tidak mengenal Polpot. Orang ini yang paling bertanggung jawab atas meregangnya ribuan nyawa dan menciptakan sejarah kelam bangsa Khmer di Kamboja.

Polpot sering disebut-sebut sebagai salah satu orang paling brutal di dunia hampir bisa disetarakan dengan Adolf Hitler yang sama-sama membantai manusia tanpa dosa demi sebuah kekuasan.

Setelah tawar menawar dengan supir tuk-tuk, akhirnya saya berangkat menuju Killing Field yang berjarak kurang lebih 45 menit dari pusat kota Phnom Penh. Phnom Penh ini meskipun merupakan ibukota kerajaan Kamboja, namun penampilannya jauh dari kesan sebagai tempat berpusatnya pemerintahan sebuah negara.

Phnom Penh tidak mempunyai bangunan modern pencakar langit apalagi transportasi modern, jauhkan bayangan itu! yang ada hanyalah tuk-tuk. Jalanan berdebu dan sepertinya tidak terdapat marka jalan di mana-mana, uhhmmm.

Tuk-tuk yang saya tumpangi berjalan sangat lambat, sang sopir yang sudah diingatkan berkali-kali supaya ngebut sedikitpun tidak menggubrisnya, adem tentrem aja ngesot menyusuri jalanan kota. Sepertinya warga Phnom Penh ini memang tidak suka ngebut di jalanan. Saya perhatikan orang-orang mengendarai motor dan mobil berjalan pelan dan lambat. Bahkan gerobak yang di tarik sapi dan kerbau pun melenggang jaya di jalanan. Memang sih tidak banyak juga kendaraan yang lalu lalang, tapi gerobak sapi? di jalan bersama motor dan tuk-tuk? wew.

Saya kagum sama hobi warga Phnom Penh ini, dengan kebiasaan mereka berjalan perlahan itu dipastikan tidak ada kecelakaan. Namun tiba-tiba..toktoktokbrokotooookkk, bruuummm.....tuk-tuk yang ditumpangi bule ngebut melewati tuk-tuk saya dan meninggalkan debu-debu beterbangan ke muka. ukhuuukkkk...kekaguman saya lenyap seketika!

Tuk-tuk yang saya tumpangi masuk ke pom bensin, saya yang sudah gerah dengan aksi lambatnya memperingatkan ke si sopir tuk-tuk. Saya turun dari tuk-tuk dan mempraktekkan beberapa action.

- Hey, look at me! saya memperagakan jalan cepat bahkan setengah berlari pada si abang tuk-tuk. You can not drive so slowly like this "saya berjalan malas" but you need to drive your tuk-tuk like this "saya berjalan cepat dan berlari". Do you understand what i mean?

Si abang tuk-tuk malah tertawa dan beberapa orang di pom itupun mentertawakan saya. Ah, siyal! dipikirnya lagi main dagelan kali!. Si sopir cuma bilang..okay-okay.

Setelah isi bensin dan menerima dagelan, si supir tuk-tuk ngebut. Aseeeek, dia akhirnya ngerti apa yang di maksudkan daritadi. Saya tepuk pundaknya, "good boy" sambil kasih jempol dua. Namun gak berapa lama, tuk-tuk nya berjalan melambat lagi seperti sedia kala. Hedeeehhh

monumen tengkorak
Setelah menyerah mengingatkan sopir tuk-tuk untuk ngebut akhirnya saya sampai juga di Killing Field. Sempat ragu juga awalnya, apakah benar ini Killing Field yang sering saya lihat di tivi-tivi. Si sopir tuk-tuk yang tidak mengerti bahasa inggris sama sekali, tiap di tanya yess sir mulu sambil nyengir-nyegir kuda.  Pun saat di tanya beneran ini Killing Field? lagi-lagi bilang yess, sir.

Saya turun dan berjalan mendekati bangunan dan baru yakin setelah melihat sebuah menara berdiri di tengah bangunan itu. Itulah menara tengkorak dan bisa dipastikan ini memang Killing Field.

Saya mulai melangkahkan kaki menuju loket tiket. 2 USD ditukar dengan tiket masuk. Tanpa pikir panjang saya langsung menuju lokasi di mana dahulu terdapat kuburan massal para korban kekejaman rezim Polpot yang dibunuh dan disiksa secara kejam bahkan konon ada yang dikubur hidup-hidup. 

Monumen tengkorak berbentuk seperti lemari yang dipasangi kaca dan terdiri dari 4-5 tingkat. Di setiap tingkatnya terdapat puluhan tengkorak kepala manusia berbagai ukuran, serem? biasa ajah.

Saya melongok-longokkan kepala sembari mengamati bentuk tengkorak manusia tersebut dari dekat. Di bagian paling bawah monumen ini terdapat baju-baju para korban yang beberapa di antara nya banyak terdapat noda darah yang mengering dan sudah lapuk. Mulai serem? tidak juga.

Sebelum memasuki area bekas kuburan massal nya, ada baiknya dari pintu masuk langsung belok ke kanan untuk menyaksikan pemutaran soal killing field ini.  Sayang saya tidak dapat menyaksikan video itu. Saat saya mau masuk dan bertanya pada seorang penjaga, dengan muka asem penjaga nya bilang, no video!. Lah, kan ini tempat pemutaran video, kok no video!. Saya ngotot pada penjaga itu, namun malah di balas nunjuk-nunjuk papan pengumuan. Setelah saya baca, oalaaaahhh, ternyata saya kepagian. Belum saatnya penayangan video tersebut ternyata maksud dari si no video.

Salah satu kuburan massal

the magic tree

Bangunan penjara toul sleng
Killing Field ini sangat sunyi dan teduh dengan pepohonan hijau yang rindang. Pengunjung dilarang berisik dengan alasan untuk menghormati para arwah yang mungkin masih bersemayam.

Banyak sekali terdapat kubangan-kubangan tempat kuburan massal ditemukan dan setiap kubangan diberi penjelasan mayat jenis apa yang terdapat didalamnya. Di antaranya mayat tanpa kepala, anak-anak, dll.

Selain kuburan masal, terdapat juga sebuah pohon besar tempat para korban disiksa. Berdasarkan keterangan yang di tempel, pohon tersebut mampu meredam teriakan si korban saat disiksa makanya disebut Magic Tree, percaya? uhmmm, bisa iya bisa tidak.

Di saat berkeliling dan foto-foto di salah satu kubangan, tiba-tiba naluri saya berkata untuk memutar badan 180 derajat. Waduh, kok tidak ada orang satupun ya?, dan kok ini tempat mendadak gloomy dan gelap. Ah, saya merinding!. Saya kabur mencari teman saya dan mengajak nya meninggalkan tempat ini. Saya menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam untuk berkeliling Killing Field ini.

Tuk-tuk kembali melaju pelan meninggalkan Killing Field menuju pusat kota. Saya berencana akann mengunjungi penjara Toul Sleng.

Toul Sleng dahulunya adalah sebuah sekolahan, namun pada masa rezim polpot dialihfungsikan menjadi penjara. Penjara ini difungsikan sebagai tempat menahan orang-orang yang dianggap berbahaya dan mengancam pemerintahan serta dicurigai sebagai mata-mata musuh. Tiket masuk Toul Sleng seharga 2 USD dan apabila membutuhkan guide, terdapat juga guide di tempat, jadi tinggal bilang saja kepada petugas.
ranjang penyiksaan

foto foto para korban

korban yang di siksa dan dibunuh

Bangunan pertama berisi ruang-ruang tempat para korban diinterogasi, di aniaya dan di siksa dengan berbagai macam alat. Ranjang dan alat-alat penyiksaan dibiarkan teronggok di masing-masing ruangan meskipun sudah tidak utuh lagi.

Bangunan kedua berisi semua foto-foto dari mulai anak kecil hingga orang dewasa baik laki-laki dan perempuan berbagai macam ekspresi. Saya bisa membayangkan mungkin dalam benak mereka adalah kematian sudah dipelupuk mata.

Banyak sekali foto-foto yang dipajang mulai dari foto-foto para korban saat masuk tahanan, sedang di siksa bahkan di bagian gedung lainnya. Foto-foto korban yang sudah meninggal setelah dianiaya dipampang dengan berbagai bentuk.

Setelah lama berkeliling mengamati foto demi foto, akhirnya saya menemukan foto yang paling terkenal di Toul Sleng yaitu foto seorang ibu-ibu yang akan menghadapi interogasi sedang menggendong bayi yang konon katanya adalah isteri pembesar kerajaan Kamboja di jaman nya (CMIW). Di dalam foto tersebut dibagian belakang kepala nya terdapat alat sejenis paku yang akan semakin menembus batok kepalanya jika dia tidak menjawab ataupun jawaban yang diberikan dianggap tidak benar. 

sang ibu yang menggendong anaknya
Kemudian saya mengamati bilik-bilik tahanan. Setelah saya buka salah satu nya, wah sempit sekali, hanya cukup untuk satu orang dan tidak ada apapun didalamnya. Sesaat kemudian saya merinding dan dibarengi teriakan seseorang yang memanggil nama saya. Hah? siapa dia? kok kenal saya?
bilik penjara
Saya cermati suara tersebut dan darimana berasal. Kok sepertinya suara itu tidak asing ya. Ya ampun, ternyata itu suara teman saya di bilik sebelah yang ketakutan ditinggal katanya, karena tiba-tiba saya hilang begitu saja, makanya dia teriak manggil-manggil.

Di pelataran bangunan, saya bertemu dengan bapak-bapak yang menurut pengakuannnya adalah survival dari kekejaman Polpot. Sambil membuka-buka lembaran majalah yang disampulnya terdapat gambar dia, si bapak itu bercerita dengan bahasa tubuh dan sedikit bahasa inggris. Dia bercerita bahwa dia di siksa dengan di setrum telinganya hingga kepala rasanya mau meledak. Kemudian di pukuli, jari-jari kuku di lucuti dan entahlah apalagi yang ingin disampaikannya karena saya sudah mulai tidak mengerti bahasa tubuh dan gerak tangannya. Sadisss bangat ya kayak PKI!!.

the survival
Sungguhpun tempat ini menorehkan sejuta sejarah kelam, saya tak bisa membayangkan bagaimana dahulu tempat ini dipenuhi orang-orang yang di dera derita lahir bathin menunggu ajal yang sudah dipastikan menjemput dalam hitungan menit.


HAPPY TRAVELING

Hal Penting
- Hati-hati dalam melakukan tawar menawar tuk-tuk di Phnom Penh, tidak sedikit yang meminta bayaran lebih saat membayar dengan berbagai alasan ini dan itu (termasuk saya yang harus adu mulut karena tukang tuk-tuk lambat meminta bayaran lebih saat membayar, tapi maaf karena saya kere, saya ajak berdebat sajah dan jurus ngeloyor tanpa dosa)
- Meskipun terkesan berlebihan dan gak ada guna nya, ada baiknya dalam hal negosiasi harga sewa tuk-tuk dicatat dalam secarik kertas berapa harga sewa yang disepakati, dari jam berapa sampai jam berapa dan lokasi yang di tuju, jika perlu minta tanda tangan tukang tuk-tuknya sebagai tanda persetujuan, yang penting adalah harga dan waktu harus disepakati
- Bawalah kacamata dan sapu tangan untuk menghalau debu-debu selama diperjalanan
- Alat transportasi di Phnom Penh hanyalah sebatas tuk-tuk, tidak ada bus ataupun angkutan umum
- Uang USD bisa digunakan untuk membayar apapun, namun sebaiknya dihindari, karena semua akan seharga minimal 1 USD yang padahal seharusnya jika membayar dalam Real Cambodia, nilainya jauh lebih kecil dari 1 USD


3 comments:

halo mas rucksack..boleh minta emailnya gak? saya mau nanya lbh detail lagi nih, boleh ya? =D

November 23, 2013 at 3:34 PM comment-delete

My pleasure
yitszak@gmail.com

November 23, 2013 at 8:47 PM comment-delete

Betul sekali...itulah panorama di Kamboja, meskipun sekarang sedikit ada perubahan.

June 15, 2017 at 9:19 AM comment-delete

Post a Comment